Salamat Datang Di Blog Kolaborasi Perguruan Tinggi Arsitektur: Universitas Sumatera Utara, Universitas Sriwijaya, Universitas Gunadarma dan Universitas Pancasila Buat teman-teman Pemerhati Arsitektur dan Kota. Ayo gabung. Segera menyusul Universitas Mercubuana Jalan berikutnya ke Vietnam -Halong Bay

Friday, March 1, 2019

Mural Hegemonik di Kawasan Kota Tua Penang Malaysia


Antri foto di depan mural
Jangan pernah katakan ke Penang kalau belum berfoto bersama lukisan-lukisan di tembok-tembok jalanan kawasan kampung kota tua pecinan Penang: Mural.
Lukisan mural begitu dahsyat memesona semua wisatawan yang datang berkunjung. Mereka antre satu persatu berderet-deret untuk merasakan berpose berjejer bersama mural. Letak lukisannya memencar mengelilingi kawasan.
Dengan suka cita wisatawan rela berjalan berputar-putar di seluruh penjuru kawasan. Kalau lelah banyak yang rela mengeluarkan ringgit untuk naik becak khas berhias atau sewa sepeda yang tersedia di kios-kios persewaan di beberapa penjuru kawasan. Tanpa sadar mata wisatawan dipaksa untuk menikmati seluruh wajah etalase kota.

Souvenir dengan tema mural
Gambar mural juga menguasai seluruh souvenir khas Penang. Terpampang di kaos, mug, lukisan dinding, tempelan hiasan kulkas, gantungan kunci, tas, piring dan berbagai atribut souvenir yang terjual di toko-toko seluruh Penang. Sangat istimewa. cerdas dan hegemonik. Di televisi, di radio, sopir-sopir taksi, penjaga toko dan tentu saja juga di pesawat maskapai penerbangan  Malaysia, majalah-majalah secara rutin  mengabarkan tentang kawasan wisata kota : Mural.



Mural di dinding tua
Namun jangan bayangkan lukisan mural yang disajikan adalah karya agung yang dilukis oleh seniman pesohor. Likisan mural sangat sederhana. Jauh dari kesan kemewahan maha karya kesenian. Lukisan-lukisan yang ditampilkan sangat bersahaja. warna tidak menyolok dan kusam. Tempatnya pun di dinding-dinding berlobang-lobang dan sebagian mengelupas. Di atas selokan. Di samping tempat sampah dan di dinding dekat jendela rumah panduduk yang kumuh.

Begitulah gagasan, kebijakan dan persekongkolan seni, komersialisasi, kota tua dan jalinan kebersamaan membentuk rantai ekonomi yang sangat oligarkis. Souvenir, publikasi dan komunikasi menggema ke seluruh dunia. Dan seluruhnya bersatu menghidupi kotanya. Aset tersembunyi tak ternilai. Kota yang renta dan terpelihara. Hingga kini dan selamanya.- (RHF)

No comments:

Post a Comment