Minat masyarakat untuk mengunjungi daerah-daerah baru kini sangat tinggi. Kemudahan transportasi. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Hanphone dan Kamera yang selalu dalam genggaman memaksa setiap saat orang berhasrat menyatakan siapa dirinya. Selfie.
Sebagai bagian utama dari eksistensi diri. Ruang menjadi sangat penting untuk diekploitasi. Keindahan tempat: arsitektur, lansekap dan kota diburu dan ditelusuri setiap sudutnya. Setiap orang ingin menunjukkan dirinya. Dan ingin menjadi bagian dari komunitas publikasi ruang yang fenomenal. Kehadirannya di tempat-tempat baru, yang indah, yang menyejarah, yang terkenal, yang unik, yang asing, yang jauh, yang mahal menjadi sangat memukau dan sangat berarti. Inilah keberadaanku. Inilah aku yang juga pernah menginjaknya, menyentuhnya dan merasakan ruangnya.
Sebagai bagian utama dari eksistensi diri. Ruang menjadi sangat penting untuk diekploitasi. Keindahan tempat: arsitektur, lansekap dan kota diburu dan ditelusuri setiap sudutnya. Setiap orang ingin menunjukkan dirinya. Dan ingin menjadi bagian dari komunitas publikasi ruang yang fenomenal. Kehadirannya di tempat-tempat baru, yang indah, yang menyejarah, yang terkenal, yang unik, yang asing, yang jauh, yang mahal menjadi sangat memukau dan sangat berarti. Inilah keberadaanku. Inilah aku yang juga pernah menginjaknya, menyentuhnya dan merasakan ruangnya.
Arsitek sebagai aktor penting dari fenomena ini. Niscaya dan harus mengakomodasi jiwa jaman yang dipenuhi arus media komunikasi dan publisitas. Substansi arsitektur bukan lagi sekadar menata ruang untuk fungsi ditinggali. Tapi lebih dari itu menjadi tanda dan bahasa untuk dinikmati. Seluruh wajahnya diseret sebagai saksi kehadiran seseorang pada tempat. Arsitektur dipaksa untuk menjadi panggung ke-aku-an. Arsitek adalah sutradara yang harus pandai memainkan perannya. Bentuk, simbol, ornamen, warna, motif, patung, huruf dan seluruh atribut ruang dituntut menjelmakan roh lokalitasnya. Organisasi ruang arsitektur dan bentuknya dipadupadankan sedemikian rupa untuk menyediakan dengan tepat titik pengambilan kamera dalam satu sudut pandang yang paling dramatis, paling memesona dan paling bermurah hati mendukung keberadaan seseorang di tempat itu.
Ketika fenomena teknologi informasi dan komunikasi telah menjadi bagian melekat dalam pelukan kehidupan. Dan setiap saat keakuan mencari-cari jalan penyelesaian yang paling mudah. Simbolisasi tanda terus dirambah dan digali potensinya untuk menjadi bagian dari jaman serba narcisme.
Bahkan papan nama jalan pun yang selama ini tak pernah terpikirkan dalam kebijakan ruang kota. Kecuali sebagai penunjuk jalan dan penghormatan pada sejarah tempat dan nama-nama pahlawan. Kini harus ditafsir ulang. Papan nama jalan butuh sedemikian rupa dimasukkan dalam kebijakan penataan ruang. Desain tiangnya, papannya, warnanya, motifnya, tulisannya dan tentu saja penempatannya dalam setting lingkungan. Harus memesona dan patut untuk dipinjam sebagai bagian dari penegasan keakuan untuk foto selfie. untuk status..dan untuk kekinian berita dalam publisitas media sosial.(RHF)
Bahkan papan nama jalan pun yang selama ini tak pernah terpikirkan dalam kebijakan ruang kota. Kecuali sebagai penunjuk jalan dan penghormatan pada sejarah tempat dan nama-nama pahlawan. Kini harus ditafsir ulang. Papan nama jalan butuh sedemikian rupa dimasukkan dalam kebijakan penataan ruang. Desain tiangnya, papannya, warnanya, motifnya, tulisannya dan tentu saja penempatannya dalam setting lingkungan. Harus memesona dan patut untuk dipinjam sebagai bagian dari penegasan keakuan untuk foto selfie. untuk status..dan untuk kekinian berita dalam publisitas media sosial.(RHF)
![]() |
| Demi pasang status. Papan nama jalanpun boleh... |


Wahh..tiang papan nama terlalu ringkih. Khawatir patah kena pose meliuj
ReplyDelete