Tangga. Orang mengenalnya sebagai jejak-jejak berundak. Menghubungkan lantai bawah dan lantai diatasnya. Umumnya model U dan L. Pada bagian tengah seringkali ada jeda. Bordes namanya. Karena beberapa kepentingan dan pertimbangan estetik. Bentuk tangga tidak sekadar kotak. Tapi juga melingkar. Spiral.
Fungsi tangga. Kini bukan lagi sekadar cara arsitek memudahkan pengguna berpindah dari lantai bawah ke lantai atas atau sebaliknya. Lebih dari itu tangga kini sebagai aksen. Titik pusat atau Focal Point bagi sebuah ruang. Keberadaan focal point bukan untuk memfungsikan dirinya sebagai elemen yang lebih penting dari yang lain, Justru untuk memperkuat kejelasan fungsi ruang, mengarahkan fokus, dan mempertajam konsep ruang.
Tangga di Penang Hill ini. Lebih memerankan sebagai focal point ketimbang fungsi konektivitas. Orang tak bisa memasukinya. Menaikinya menuju lantai di atasnya. Atau menuruninya. Untuk menyentuhnya saja tak bisa. Tangga itu dikelilingi oleh pagar melingkar. Berlama-lama kami pandangi, perhatikan dan berpikir untuk apa tangga itu? Ini tangga khusus..dan unik!!
Bentuk tangga itu melingkar. Kokoh. Dari beton. Railingnya pipa warna crome. Stainless Steel. Motif garis dominan vertikal. Dingin. Angkuh. Mengingatkan pada jeruji-jeruji penjara. Secara keseluruhan tampak modern. Di tengahnya ada pohon artifisial. Juga terkesan modern. Warnanya abu-abu kromatik. Tampak pendar-pendar berkilau. Juga angkuh.
Dalam keseluruhan ruang. Letak tangga persis di tengah ruang lobby transisi memasuki Penang Hill.. Benar. Tangga itu telah berhasil mencuri perhatian. Dia memimpin dan memerankan dirinya sebagai focal point. Seluruh mata niscaya mempercayainya sebagai titik perhatian. Dari arah masuk utama Penang hill yang luas. Tangga sangat mencolok. Letaknya di tengah. Bentuknya, Warnanya, Bahannya dan Seluruh elemennya sangat menghipnotis pandangan. Sensual. Persis seperti Lady Gaga yang sedang menyanyikan lagu What do You Want. Pakaiannya seksi. Gemerlap kerlap kerlip. Di tengah panggung. Meliuk-liukkan tubuhnya. Di dalam cengkeraman cahaya yang menyorotnya. Semua penonton terpana. Mengaguminya dengan pikirannya masing-masing. Tangga di Penang Hill demikian juga. Bermandikan cahaya. Silaunya menerangi seluruh ruang. Mencuri pandang. Memesona. Kedudukan tangga dalam ruang sangat sentral. Ia berperan mengajari pengguna untuk menghela arah sejenak. Dan lalu memberi peluang mata memandang menyapu mengitari ruang. Untuk memberi jeda sejenak dan berpikir kemana langkah kaki bergerak. Di ujung kiri tertulis Informasi. Ke kanan sedikit: Pintu masuk. Lurus ke depan etalase toko souvenir. Agak ke kanan toilet dan mushola. Lebih ke kanan lagi kantor administrasi pengelola. Di beerapa sudut tergeletak kursi-kursi panjang kayu natural besar berkaki roda seperti bekas kereta.
Ruang lobby transisi ini beratap agak rendah bila dibandingkan luasnya. Balok-balok struktur dibiarkan menunjukkan dirinya sebagai penopang langit-;angit lantai beton yang berat. Warna abu-abu kusam dan pucat. Lantai hitam kasar juga hitam muda pudar. Memasuki ruang transisi meneduh. Terasa petang menjelang pagi atau sore menjelang malam. Setengah gelap setengah terang. Redup. Peran tangga makin berarti. Dialah titik pusat sumber cahaya alami jatuh dan memancar. Pendarnya memantul-mantul ke seluruh dinding-dinding ruang sekitar. Tangga itu sungguh-sungguh bukan untuk fungsi konektivitas bawah dan atas. Tangga itu asesoris. Tangga itu untuk penerang jalan. Yang menuntun. Tangga itu sebagai focal point. Menggoda. Dan lebih berhasil ketimbang fungsi yang sebenarnya... Tangga...tangga...Fungsimu menipu..hehe (RHF)


No comments:
Post a Comment