 |
| Deretan becak menunggu penumpang di Pusat Kota Penang Malaysia |
Alat transportasi dari waktu ke waktu selalu berkembang. Sejalan dengan cara pikir manusia yang terus menerus mencari kebaruan. Alasan utamanya adalah efisiensi dan efektifitas. Kemudahan dan kenyamanan teknologi. Kecepatan dan ketepatan. Waktu adalah uang. Belakangan muncul alasan lain. Pentingnya alat transportasi: demi nilai-nilai kemanusiaan, romantisme, strategi ekonomi dan wajah sosial budaya kawasan.
Becak. adalah salah satu alat transportasi yang paling dilematis. Berkaki tiga. Modifikasi dari sepeda yang hanya punya dua kaki. Energi utamanya adalah manusia yang mengayuh, yang berotot, yang sehat dan yang asupan gizinya memadai. Tentu saja juga yang percaya diri, gigih, tanpa malu dan terpaksa.
Di Penang dan Indonesia, Pengemudi (pengayuh) becak posisinya di belakang. Nafasnya boleh tersengal. Keringatnya boleh bercucuran. Penumpangnya duduk bersandar empuk di depan. Kaki mengangkang. Adakalanya kaki kanan bertumpu di paha kaki kiri. Bagai singgasana. Persis Raja yang sedang memeriksa barisan. Pandangannya mengelana menikmati rona kota yang baru dikenalnya. Tanpa terganggu oleh keadaan pengayuhnya. Di beberapa negara lain, seperti Pakistan, Bangladesh dan China. Kursi penumpang justru di belakang. Pengemudi mengayuh di depan. Tidak menyenangkan. Nafas yang tersengal tercium ke belakang. Dan sesekali keringat bercampur asap knalpot bercucur memercik seperti serpihan halus rintik hujan.
 |
| Di Penang dan Indonesia. Pengayuh becak di belakang. Penumpang di depan sambil menikmati kota |
 |
| Becak di Bangladesh. Penumpang di belakang. Pengemudi di d |
Mengapa becak dilematis? Bagi pemerhati sosial. Penggunaan tenaga manusia sebagai alat penggerak adalah bentuk penistaan. Pengingkaran pada kesetaraan. Tidak manusawi. Sungguhpun becak masih lebih terhormat ketimbang
rickshaw. Alat transportasi tradisional yang masih banyak ditemui di China, Korea, Jepang dan India. Penggeraknya juga manusia. Bedanya,
rickshaw ditarik oleh manusia yang berlari di depan. Persis seperti kuda atau kerbau yang menarik kereta dibelakangnya.
 |
| Penggunaan rickshaw sebagai alat transportasi di beberapa negara |
Di Indonesia. Becak dengan penggerak tenaga manusia kini dilarang. Terutama di jalan-jalan utama kota. Becak dipandang merusak citra kota. Memamerkan kemiskinan. Memamerkan ketiadaan kesantunan pada nilai kemanusiaan. Memalukan bangsa. Becak tidak boleh dikayuh. Becak dimodifikasi diganti dengan penggerak motor. Namanya Betor (becak motor). Indonesia memang paling pandai memanipulasi persepsi. Nilai kemanusiaan sebagai argumen kunci pelarangan, Untuk menunjukkan bahwa pemerintah punya kepedulian. Punya norma. Punya adab. Punya penghormatan dan pembelaaan pada masyarakat kecil.
 |
| Betor di beberapa kota di Indonesia (dari beberapa sumber) |
 |
| Bentor di Amsterdam Belanda (sumber: sketsasekelumit.blogspot.com) |
Di Penang. Becak justru hilir mudik di jalan-jalan utama kota. Tidak ada larangan. Pemerintah justru mendorong agar becak tampil sebagai energi penting wisata transportasi perkotaan. Kebijakan yang jujur dan cerdik. Becak adalah jalan panjang kehidupan. Becak adalah potret kemanusiaan. Becak adalah penggalan sejarah. Jejak budaya. Profil becak didesain sedemikian rupa agar tampak menarik. Penuh asesoris. Ornamen melayu, kalungan bunga-bunga dan payung warna-warni yang terbuka. Pengemudi becak diajari tentang silsilah budaya Penang. Pengemudi becak naik derajat menjadi teman bicara yang pintar. Mereka sangat paham jalan dan tempat-tempat wisata yang layak dikunjungi. Maka becak bukan sekadar fungsi transportasi. Tapi telah menjadi bagian dari seperangkat yang utuh Konsep Konservasi kawasan kota tua. Kawasan George Town dan Little India khususnya.
 |
| Becak dan wisata kota tua |
Pertimbangan pelarangan becak dengan alasan kemanusiaan. Sama saja dengan memperdebatkan perlunya konservasi bangunan dan kawasan kota. Bukankah kawasan-kawasan dan bangunan-bangunan itu juga menyimpan sejarah yang seringkali kelabu. Bahkan kadang menyimpan memori kekejaman dan penghinaan kemanusiaan yang sangat dahsyat di masa lalu? Dengan logika yang sama. Maka konservasi bangunan dan kawasan kota adalah aib yang tak ingin dikubur. Konservasi adalah romantika sejarah yang ingin dipelihara.
Tengoklah Kota Tua Jakarta. Patung-patung manusia berhias dengan berbagai cara bermunculan. Sebagai noni-noni Belanda. Busana klasik putih, rapi dengan topi lebar, kaos tangan dan keranjang aneka bunga warna-warni. Di sisi lain ada yang berhias sebagai hantu terluka. Ibarat arwah yang penasaran tak hendak beranjak masuk ke dunia fana. Menyimpan dendam yang belum usai. Juga ada ekspresi rakyat jelata dengan tubuh nyaris telanjang. Lusuh penuh luka. Tangan diikat dan kaki dirantai dengan penjara bandul bola besi. Mereka antusias mementaskan suasana. Memanggil ingatan. Bahwa disitulah peristiwa penghakiman dan kekejaman pernah ada. Rakyat direndam sepanjang malam dalam air yang naik pelan-pelan sampai nafas tersengal-sengal. Tertelan air yang makin tinggi. Lalu mati tersiksa. Di tempat itu juga. Di tengah lapangan terbuka. Di depan gedung Fatahillah yang megah itu. Setiap saat para pembangkang dihukum. Dan Sang jenderal kolonial bersama koleganya menyaksian kematian manusia dengan cara yang sangat sengsara. Historia kekejaman dan penghinaan. Apalah artinya romantika itu? Dibandingkan sekadar pelarangan becak? Bagi kemanusiaan?
 |
| Imaji masa lalu dengan Noni-noni Belanda (kompas.com) |
 |
| Potret kekejaman. (sumber: kompas.com) |
Maka jangan salah. Konservasi sesungguhnya adalah rekonstruksi kitab sejarah. Menyimpan ilmu. Tentang kehidupan dan jalannya yang berlika-liku. Ia adalah rangkaian yang membentuk rantai perkembangan peradaban.. Tak boleh diputus. Tak boleh disembunyikan. Karena dari situlah wajah demi wajah kemanusiaan bermunculan. Dan dari situlah serpihan-serpihan kebenaran ingin digali dan diungkapkan. Memang, bagi Hegelian: Masa lalu adalah kesalahan. Harus dikubur. Karena kebenaran hanya ada pada hari ini. Silih berganti. Tapi, tidak bagi Theodore Adorno. Masa lalu adalah tahapan. Bagaikan titian tangga. Kita tak kan pernah sampai pada hari ini. Bila tak melewati anak masa sebelumnya. Nostalgi selalu hadir diam-diam. Menyelinap mengajari kita pada hari ini. Dan yang akan datang. Selamanya. (RHF)
No comments:
Post a Comment